Hari yang Aneh

Oleh : Husain Ali

“Hari yang cukup tidak menyenangkan.”
Sebuah pesan pendek (sms), aku kirimkan pada sahabatku yang baru dua hari di Cirebon, pulang dari Jakarta. Sengaja aku kirimkan, karena ingin tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama, pikirku.
“Kenapa?,” jawabnya.
“Matahari, setengah hati menampakkan wajahnya, sejak pagi. Ia lebih suka bermanja-manjaan dengan awan yang menyelimutinya. Langitpun murung. Terlihat mendung.”
“Hem.. Nikmatilah..,” katanya.
Aku mengernyitkan alis mata, membacanya. Betapa tidak? Semalaman aku begadang, membaca aksara-aksara dalam sebuah cerita pendek Seno Gumira Ajidarma, “Sepotong Senja Untuk Pacarku”. Sampai pagi, aku belum juga tidur. Mencuci piring bekas sahur, menyirami bunga, dan terakhir mencuci baju yang sudah satu minggu kotor, menumpuk di ember. Baru, siang harinya aku merasakan letih. Siang itu serasa kurang bergairah, saat matahari yang seharusnya terbit di ufuk timur, belum juga nampak.
Aku rebahkan tubuh diatas lantai, beralaskan permadani, berbantalkan tangan, setelah kantuk menyergap mataku, begitu kuat. Entah, mimpi apa, aku sudah tak sadarkan diri. Tidur sangat pulas.
Aku terperanjat bangun, saat melihat jam dinding menunjukan waktu, tepat pukul 17.00. Sebelumnya, seperti ada orang yang mengetuk pintu kamar dan memanggil-manggilku. Mba Eva, kakakku, membangunkanku. Setelah sadar, ternyata, hari sudah menunjukan senja. Akupun bangun, keluar dan duduk di kursi, beranda Padepokan Seni, tempatku belajar menulis.
Kepalaku merasakan pusing. Mungkin, karena tidur terlalu lama atau terlalu sore. Konon, tidur sore, dapat menyebabkan gila. Entah, apa alasannya, aku tidak terlalu berpikir banyak soal itu. Yang pasti, kepalaku merasakan pusing.
Di luaran sana, aku lihat ingar-bingar motor yang berlalu lalang. Jalanan dipenuhi pengguna motor yang sedang ngabuburit. Menunggu magrib tiba.
Ramdhan, memang selalu menawarkan atmosfir yang berbeda. Namun, pemandangan sore itu hanya hampa yang aku rasakan.
Matahari yang sejak pagi, belum juga mau menampakkan wajahnya. Tak lama kemudian, derai hujan mengguyur kota. “Sepotong Senja...”, yang pernah diceritakan Seno, kali ini sama sekali tidak menarik bagiku.
“Apa yang kau tangkap hari ini? Rasanya, kau sungguh menikmati,” aku balas pesan singkatnya.
“Hariku cukup menarik”
“Kenapa?”
“Disuruh masak, yang Nela sendiri gak tahu, untuk pecel wortel harus dipotong-potong seperti apa (?)”
“Hahaha...” Soal kecil, tapi cukup menarik. “Kau, ini bisa saja, Nela.”
“Loh, serius. Buatku ini cukup menarik.”
“Yaya, aku setuju itu. Makanya, sekecil apapun, akupun coba menikmati. Itu saranmu, bukan?”
“Tepat. Sependapat!”
Nela, sahabatku, yang baru semester pertama kuliyah, di Paramadina Jakarta, ternyata sedang belajar memasak. Liburan di Cirebon, dia manfaatkan benar. Sebagai mahasiswa rantau, yang hidup jauh dari keluarga dan tempat tinggal asal, mau tidak mau harus siap mandiri dan kreatif. Mungkin dengan belajar memasak, menjadi bekal dia, agar lebih bertahan hidup di sana. Di Jakarta.
Pernah, dia bercerita padaku, saat hari pertama pulang ke Cirebon. Tentang pengalaman pertamanya hidup di Jakarta. Sebagai perempuan yang lulusan salah satu pesantren di Jawa Tengah, tentu, perantauan yang dia alami berbeda dengan lingkungan sebelumnya. Hidup di tengah masyarakat urban seperti Jakarta, merupakan babak baru baginya. Dia masih buta tentang Jakarta.
Pub atau klub, tempat-tempat dunia gemerlap (dugem), yang sebelumnya asing, dikenalkan teman-teman sekampus Nela. Konon, di Senayan, seperti Ekuinas, Ekstu, menjadi tempat mangkir orang berduit, seperti para artis dan mahasiswa kalangan menengah atas. Untuk dapat masuk, harus berkostum tertentu dan pengunjung harus ada barcode. Gaya hidup hedonis, menjadi tren masyarakat  Jakarta.
Di Semang, lain cerita, di sana, banyak berdiri tempat dugem kacangan. Yang mangkir, kebanyakan masyarakat maupun mahasiswa, kalangan menengah ke bawah. Tempat-tempat dugem tersebut, pengunjungnya meresahkan. Banyak diantara sekian pengunjung, yang jail.  
Nela sendiri baru tahu dari cerita-cerita temannya. Walaupun pernah sesekali diajak temannya ke tempat-tempat dugem di Senayan. Sampai saat ini, dia belum pernah menyambanginya. Dia menolaknya dengan cara halus. Karena alasan tidak punya kostum, katanya. Temannya juga menghormati, melihat Nela yang sehari-harinya berkerudung.
Nela masih merasa asing dengan lingkungan tempat tinggalnya yang baru itu. Ketika dia pulang ke tempat kos, tidak ada ruang yang hangat untuk sekedar ngobrol, bercengkrama dengan tetangga.  Masuk kamar, lalu pintu dikunci. Dia hanya ditemani buku-buku bacaan, yang setia melewati hari-harinya yang baru sekitar sebulan hidup, di Jakarta. “Jangan merasa terasing,” menurut temannya suatu ketika. Tapi karena minoritas dan memang tidak ada waktu saja untuk bercengkrama yang sifatnya membuang waktu.
Betapa, dunia Jakarta, ternyata lebih keras kehidupannya dibanding Cirebon tanah kelahirannya; dibanding Kajen Jawa Tengah, tempatnya dulu ia mesantren. Beragam karakter, latar belakang dan gaya hidup masyarakatnya, menjadi teror psikologis, baginya. Benar menurut orang yang sudah pernah ke Jakarta—karena mungkin latar belakang yang berbeda—, interaksi sosial yang dibangun di sana, “Siapa lu, siapa gua”. Terkesan individualistik. Hidup di Jakarta, yang penting, saling menjaga privasi dan nyaman.
Apalagi, dia seorang santri yang bapaknya seorang kiai, cukup terkemuka di Cirebon dan sekitarnya. Dia harus berhati-hati dan pandai-pandai memilih dan memilah, teman dan lingungannya. Dia memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakatnya. Begitulah Nela, mempelajari lingkungan barunya.
“Bagaimana masakanmu?” kataku padanya.
 “Ini kok, kurang matang semua y? Pengalaman pertama yang kurang berhasil,” katanya. Masakan bikinan Nela kali ini, untuk hidangan buka puasa dengan keluarganya.
“Bagaimana rasanya?”
“Wah, kau bisa saja. Kau menyindirku, bukan?”
“Serius, aku nanya.”
“Kurang dikit. Tapi lumayanlah.”
“Nikmatilah. Awal untuk jadi mahir.”
“Hahaha..” Saya tertawa puas.
Hujan telah reda. Langit menampakkan bianglala. Senja mulai tersenyum. Hari yang cukup tidak menyenangkan itu, terasa menjadi berubah. Cerita dari sahabatku, sore itu, cukup menarik bagiku.
***
Layaknya roda, kehidupan ini terus berputar. Berjalan, seiring waktu yang tak pernah kembali. Siang dan malam, matahari dan bulan silih berganti. Sepintas, terlihat itu-itu saja, sambil lalu. Ternyata, hari, minggu, bulan, tahun, terus saja berganti. Semuanya beranjak, semuanya bergerak.
Aku melompat dari kursi tempatku duduk. Beranjak menuju cermin. Aku lama berdiri di depan cermin, menangkap sesuatu yang berubah pada diriku.
Rambutku kian hari semakin panjang.  Raut mukaku terlihat berbeda dengan fotoku, sepuluh tahun silam, yang masih tersimpan baik dalam dompetku. Tak terasa, dihitung-hitung, umurku hampir seperempat abad.
Aku malu pada diriku sendiri; merasa kurang bersukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Kenapa aku mengeluh? Kenapa pula, aku jadi senewen pada hari yang tidak pernah bersalah? Aku menjadi curiga pada diriku. Jangan-janagan aku tak bisa menangkap gejala kehidupan yang terus berubah?
Hari itu tanggal 15, bulan jawa. Dalam hitungan kalender jawa atau hijriyah, rembulan sedang menampakkan cahaya purnamanya. Benar saja, saat malam tiba, aku keluar dari Padepokanm seni, rembulan menampakkan ronanya, sebagai dewi malam.
Pelataran Padepokan Seni, terlihat asri oleh pantulan cahaya rembulan yang berpendar. Rumput ilalang bergoyang-goyang oleh sapuan angin yang tenang. Binatang melata, seperti katak, jangkrik, bersahutan menyambut purnama yang terang benderang. Menjadi nyanyian malam, menggantikan suasana siang hari yang terlihat mendung.
Melihat ke atas, wajah langit kini sumringah. Bintang-bintang berkerlipan. Awan tebal yang pada siang harinya menyelimuti  langit, seperti jelaga, menghilang seiring matahari terbenam. Hanya sisa awan tipis yang setia menemani malam. Berarak bersama rembulan.
Semakin malam aku larut bercakap dengan sepi. Terang purnama menuntunku untuk menyusuri malam. Aku merasakan buliran-buliran lembut, cahaya rembulan; purnamanya menyejukkan. Malam itu menceritakan tentang purnamanya yang sempurna. Aku sangat menikmatinya. Banyak hal aneh, hari itu. Tapi begitulah, aku melewati hari itu banyak hal, memang menjadi semacam anugrah.
Nela sahabatku, mungkin sudah terlelap tidur. Atau mungkin sebaliknya, dia juga menikmati purnama malam itu yang cukup menawan. Terlalu indah memang kalau dilewatkan.


Lingkar Studi Sastra (LSS) Cirebon, 26 Agustus 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngajaraken Murid Nile Demokrasi

Wayang Wong Cerbon Ngalami Tenar