Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Nyanyian Buruh Tani

Di kampung saya, Kapetakan, Cirebon, musim panen ketiga saat ini, seorang buruh tani dapat catu (bagian) hasil ngarit dari pemilik tanah hanya 'sekilo dua kilo'. Karena satu hektare ladang sawah digropyok ratusan buruh tani. Prosesnya juga seperempat jam, sawah yang dipanen ludes. Untuk lebih dari itu, seorang buruh tani harus rela bermalam di areal sawah. Malam hari, kondisi ag ak lengang. Lebih parah lagi, ada buruh tani harus bersitegang dengan pemilik tanah. Sebab pemilik tanah melarang sawahnya dipanen orang lain. Hanya hendak dipanen keluarga. Buruh tani yang tak memiliki kuasa, terpaksa gigit jari. Meratapi atau mencracau seperti orang yang tak tau diri. Musim kemarau, masih di kampung saya, Kapetakan, Cirebon, banyak padi yang puso alias gagal panen. Untuk minum, mencuci, dan mandi harus mengeluarkan "anggaran" rumah tangga lebih dari Rp20 ribu untuk kebutuhan air sekeluarga kecil. Belum kebutuhan pokok lainnya. Bagaimana dengan penghasilan c...

Apem lan Tawurji Kanggo Tolak Bala

Wulan Sapar Wayane Bebersih Awak Yen teka wulan Sapar, akeh wong pada percaya iku wayane usum kayawan atawa satoan pada kawin. Mangkane ning wulan Safar, baguse kanggo menusa aja nikahan. Sejene kuen, wong gen pada percaya yen ning wulan Sapar akeh blai. Ning Cerbon, yen teka tanggalan wulan Sapar, kususe ning dina Rebo wekasan, yaiku Rebo terakir ning wulan Sapar, akeh wong pada gawe apem. Mangkane ning sedawane wulan Sapar biasane wong Cerbon nganakaken telung macem, kang tenar diarani kelawan Ngapem, Ngirab lan Rebo Wekasan.      Kayadene Rokayah, wong Kelurahan Perbutulan, RT 01 RW 05, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cerbon, yen teka wulan Sapar, deweke   sibuk gawe apem. Sebab akeh wong kang pesen apem lewat deweke. Kang aran apem yaiku, panganan kang digawe sing glepung beras kelawan diadon karo ragi, teruse dipai gula kinca. Biasane wong pada nambai pandan ambir krasa wangi. “Luwih kerasa enake yen dipangan waya angetan,” jare Rokayah. Mi...

Hari yang Aneh

Oleh : Husain Ali “Hari yang cukup tidak menyenangkan.” Sebuah pesan pendek (sms), aku kirimkan pada sahabatku yang baru dua hari di Cirebon, pulang dari Jakarta. Sengaja aku kirimkan, karena ingin tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama, pikirku. “Kenapa?,” jawabnya. “Matahari, setengah hati menampakkan wajahnya, sejak pagi. Ia lebih suka bermanja-manjaan dengan awan yang menyelimutinya. Langitpun murung. Terlihat mendung.” “Hem.. Nikmatilah..,” katanya. Aku mengernyitkan alis mata, membacanya. Betapa tidak? Semalaman aku begadang, membaca aksara-aksara dalam sebuah cerita pendek Seno Gumira Ajidarma, “Sepotong Senja Untuk Pacarku”. Sampai pagi, aku belum juga tidur. Mencuci piring bekas sahur, menyirami bunga, dan terakhir mencuci baju yang sudah satu minggu kotor, menumpuk di ember. Baru, siang harinya aku merasakan letih. Siang itu serasa kurang bergairah, saat matahari yang seharusnya terbit di ufuk timur, belum juga nampak. Aku rebahkan tubuh diatas lantai, berala...

Bung Toton

Oleh : Husain Ali Malam itu langit cerah. Awan berarak di sela-sela cahaya bulan yang mendekati purnama. Sinarnya yang kuning keemasan kemudian disambut oleh suara katak dan anjing menyalak. Bunyi tokek yang beruntun sesekali terasa seperti sabda alam yang senyap. Barangkali hanya Bung Toton yang masih terjaga. Kelopak matanya susah dikatupkan lantaran ada satu kegelisahan yang berkecamuk di dadanya. Ia terbaring di beranda atas Gedung Kesenian yang selama sepuluh tahun terakhir menjadi rumahnya. Dengan menengadah ke langit, tangannya berayun-ayun menunjuki bintang yang bertaburan, seolah sedang menghitung semuanya satu per satu. Seketika itu, sejumlah angka-angka memantul dari bola matanya yang berkaca-kaca. Kemudian ia pun memungut sebatang kretek dan menyalakannya. Asap mengepul tebal dan melayang-layang di udara malam. Ia terus memperhatikan tiap lekukannya, sembari berharap segala kecemasan akan menguap bersamanya. (Baca: Nyanyian Buruh Tani)   Bung Toton...