Bung Toton

Oleh : Husain Ali


Malam itu langit cerah. Awan berarak di sela-sela cahaya bulan yang mendekati purnama. Sinarnya yang kuning keemasan kemudian disambut oleh suara katak dan anjing menyalak. Bunyi tokek yang beruntun sesekali terasa seperti sabda alam yang senyap. Barangkali hanya Bung Toton yang masih terjaga. Kelopak matanya susah dikatupkan lantaran ada satu kegelisahan yang berkecamuk di dadanya.

Ia terbaring di beranda atas Gedung Kesenian yang selama sepuluh tahun terakhir menjadi rumahnya. Dengan menengadah ke langit, tangannya berayun-ayun menunjuki bintang yang bertaburan, seolah sedang menghitung semuanya satu per satu. Seketika itu, sejumlah angka-angka memantul dari bola matanya yang berkaca-kaca. Kemudian ia pun memungut sebatang kretek dan menyalakannya. Asap mengepul tebal dan melayang-layang di udara malam. Ia terus memperhatikan tiap lekukannya, sembari berharap segala kecemasan akan menguap bersamanya.

(Baca: Nyanyian Buruh Tani) 

Bung Toton terlihat lebih tenang sekarang. Sampai saat, istrinya berteriak-teriak dari bilik kamar. Ia terus saja berkata-kata sekenanya. Seketika itu, suasana malam yang tenang berubah suram. Ada ketegangan yang membuat dadanya sesak. Ia terbatuk. Sesuatu yang kental seperti terdampar di tenggorokan. Ia pun meludahkannya. Bersamaan dengan itu, batang rokok yang tengah menyala itu dibantingnya. Lalu ia terdiam, enggan membalas ocehan istrinya yang sudah seperti mercon gantet. Apalagi kemarahannya sangat beralasan.

Begitulah. Indra, anak semata wayangnya yang sedang di bangku SMEA, beberapa hari lagi akan menghadapi Ujian Akhir Nasional. Sementara kartu ujian bisa didapat hanya jika tunggakan SPP-nya yang delapan bulan itu dilunasi. Ia sudah mencoba membicarakannya dengan wali kelas, kepala TU, sampai kepala sekolah, akan tetapi persoalannya sepersis 2x2 = 4, alias tak bisa ditawar. Indra pun terancam DO.

**

Sebenarnya Bung Toton bukanlah seorang pemalas. Masa lalunya menjadi bukti  yang tak bisa dipungkiri. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, ia sudah harus banting tulang, memeras keringat, mengepalkan tangan memecahkan karang. Masa kanaknya pun habis bersama orang tuanya yang hanya seorang kuli bangunan.

Sepulang sekolah, hanya dengan mengganti baju seragamnya, ia lekas menuju tempat di mana bapaknya bekerja. Mengangkati batu-batu, kayu, adukan semen, atau apa pun yang bisa dikerjakan tangan mungilnya. Untunglah tekadnya untuk menjadi seorang terpelajar, mengalahkan sengatan terik matahari yang ketika itu sepanas pemanggang. Sayang, bebannya yang dipikulnya kian memberat, ketika ia ditinggal mati oleh bapaknya.

Saat itu Bung Toton baru saja lulus STM. Dan dengan kemampuan seadanya, ia mulai memasuki belantara kehidupan baru. Berdiri sebagai kepala dan tulang punggung keluarga—pontang-panting bekerja, demi keempat adiknya yang masih sangat belia. Sampai-sampai ia tidak berani lagi menggantungkan cita-cita. Ia hanya bisa berharap kehidupan akan berputar dan kelak nasibnya akan lebih baik.

**

Kini Bung Toton dituntut untuk menyelesaikan persoalan anaknya. Sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab, ia pun resah. Betapa tidak? Penghasilannya sebagai tukang becak hanya cukup buat makan sehari-hari. Sehingga kalau ada yang bisa diharapkannya, maka itu adalah pembayaran tunai atas delapan bulan gajinya sebagai petugas kebersihan Gedung Kesenian Kota Ciremai (GKC), yang belum terbayarkan.

Kegelisahan itu jauh-jauh bulan pernah diceritakan pada Bang Doni, mantan ketua GKC yang tanpa alasan jelas, telah mengundurkan diri. Setelah pengunduran diri itu, selain berdampak pada kepengurusan gedung kesenian yang nampak seperti satu lagu dangdut Hidup Enggan Mati Tak Mau, juga berimbas pada ketidakjelasan gaji Bung Toton.

Bagaimanapun juga, karena Bang Doni adalah orang yang mengajukan namanya untuk menjadi petugas kebersihan GKC, maka berkali-kali Bung Toton menyambangi rumahnya, mengadu soal tunggakan gajinya. Yang pada kenyataannya, mantan ketua GKC itu ogah melakukan apa-apa. Ia hanya bisa menyarankan, agar Bung Toton menemui Mas Oke, bendahara GKC. Tapi lagi-lagi itu mengecewakannya.

Akhirnya, dengan inisiatif sendiri, Bung Toton melayangkan surat kepada Walikota, Ketua DPRD Kota Ciremai, dan orang-orang yang terkait dengan Gedung Kesenian, perihal nasibnya yang terkatung-katung. Namun hasilnya tetap sama. Ia malah seperti menjadi bola pingpong yang dipukul ke sana ke mari seenaknya. Sampai suatu ketika ia menceritakan masalahnya pada seorang wartawan. Berita Bung Toton pun tersiar dan menjadi perbincangan masyarakat seantero kota.

Isu Bung Toton ternyata membikin gusar Pimpinan Dewan. Karena mungkin malu pada masyarakat, ia pun berang terhadap bobroknya manajemen kepengurusan GKC. Karena desakan media massa dan simpati banyak kalangan itulah, akhirnya Ketua dan beberapa unsur DPRD Kota Ciremai mengumpulkan para seniman dan pejabat Disbudpar untuk menggelar musyawarah. Membicarakan soal perombakan Pengurus Gedung, dan tentu saja nasib gaji Bung Toton.     

Hasilnya, GKC kemudian diambil alih oleh Dinas Pariwisata Kota Ciremai. Dan gaji Bung Toton akan di rapel satu semester ke depan. Untuk sejenak, Bung Toton bisa bernapas dengan lega. Tetapi ternyata itu tak bertahan lama. Sebab, Pengurus baru ternyata tidak mau terlibat sedikit pun dengan apa yang sebelumnya menjadi tanggung jawab pengurus lama. Hal itu dikemukakan langsung oleh Abdul Soleh, seseorang yang menggantikan posisi Bang Doni. “Gajimu juga baru bisa dicairkan setelah sidang paripurna tahun depan," lanjutnya.

Bung Toton tercengang. Kata-kata tadi terasa seperti petir yang menyambar-nyambar di hatinya. Mukanya merah padam. Tapi ia tahu, ia tak bisa melakukan apa-apa, kecuali harus menerimanya. Ia memang bisa menerimanya. Tapi tidak dengan lapang dada. Diam-diam kebencian dan kemarahan telah menggumpal di hatinya.

Tapi bagaimanapun, ia tak rela jika Indra anaknya, harus keluar sekolah tanpa menggondol ijazah. Itulah kenapa ia memberanikan diri untuk mendatangi seorang kiai kondang untuk ngutang. Ia akan melakukannya, sekalipun harus dilakukan dengan cara mengemis-ngemis.

Tibalah ia di rumah besar itu. Beberapa mobil berjejer rapih di muka halamannya. Tak aneh. Sebab, ia memang kondang. Ia biasa menggunakan Mercedez Benz-nya ketika ada acara dengan para petinggi Negara, dan hanya Jazz atau Soluna untuk acara-acara biasa. Kiai Sam’an namanya. Kaya dan konon masih keturunan arab.

Sebenarnya itu bukan kali pertama buat Bung Toton. Sebelumnya ia sudah beberapa kali mendatangi kiai dengan keperluan serupa. Namun kekecewaan juga yang diterimanya. Hanya bayangan anaknya lah yang membuatnya tak kapok mencoba. Lagi pula ia yakin betul, kali itu pak kiai tak sedang kere. Beberapa hari lalu dia melihatnya nongol di TV. Berceramah soal akhlak, kesalehan sosial, kemurahan hati Nabi sebagai suri teladan umat, dan yang sejenisnya. Artinya ada honor besar yang masuk kepekarangan rumah kiai, pikir Bung Toton.

Untuk orang yang belum membuat janji, mereka harus rela lama mengantre. Maklum, kiai Sam’an tak kalah kondang dari Raja Dangdut Rhoma Irama. Banyak tamunya dari luar kota yang berkunjung hanya sekadar bersilaturahmi atau meminta wejangan dan doa-doa.

Singkat cerita, setelah Bung Toton berhasil bertemu dengan orang yang dipuja-pujinya, ternyata pak kiai pun tak bisa membantu. Ketika Bung Toton menghiba-hiba padanya, pak kiai malah berkata, “Aku tak mau meminjamkannya. Uangku pasti akan kau pakai buat berjudi.”

Bung Toton pun pulang dengan pikiran kopong dan tangan kosong.

**

Di rumah, istrinya tak pernah berhenti marah-marah. Sampai-sampai kata kotor beterbangan dari mulutnya yang nyaris berbusa. Murka istrinya kian memuncak tatkala melihat Bung Toton yang patah semangat. “Kau itu laki-laki beranak satu. Mana tanggung jawabmu? Dasar kebo!” teriaknya, sambil disusul suara piring yang pecah dibanting. Bung Toton geram. Ia pun menunjukkan kalau dirinya bisa juga naik pitam. Dicengkeramlah leher istrinya, dan satu tangan lainnya menempeleng kedua pipi. Setelah itu ia pergi meninggalkannya.

Bung Toton terus berjalan tanpa tujuan. Jasadnya menembus keremangan malam yang makin kelam. Mendadak ia berhenti. Satu ide sudah didapatnya.

Rupa-rupanya saat itu para iblis berkerumun mengelilingi dan membisikkan sesuatu padanya. Seketika itu ia kembali ke rumahnya. Meraih pisau masak di dapur dan mengasahnya tajam-tajam. Istrinya hanya bisa memberikan tatapan kecemasan. Ia pun mengurung diri di kamarnya yang terkunci. Bung Toton sendiri tak lagi menghiraukan apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ia melangkah kakinya menuju kandang ayam di belakang rumah. Mengambil seekor cemani yang dipercaya orang-orang memiliki darah bertuah.

“Orang-orang biadab itu patut dikasih pelajaran!”.

Dengan pisau terhunus di ujung kepalan tangan, diinjaknya kedua kaki ayam itu. Tangan kirinya siap mencengkram rahang cemani kuat-kuat. Seperti orang kerasukan, ia berkomat-kamit membacakan mantera-mantera. Tapi belum juga pisau yang dipegangnya berhasil menggorok batang leher, tiba-tiba ayam itu berbicara.

Bung Toton kaget setengah mati. Pisau yang dipegangnya terlempar jatuh ke tanah. Bulu kuduknya kontan berdiri. Sekujur tubuhnya bergetaran tak karuan. Keringat dingin pun bercucuran membasahi kening. Tapi kemarahannya yang berjejalan di dada, membuatnya tak lari tunggang langgang.

Ayam itu berkata, “Hai Toton! Kau boleh mengambil darahku, untuk santetmu. Tapi aku kasihan padamu. Lihatlah! Setan-setan tertawa melihatmu. Kau tidak lebih dari manusia yang diperbudak hawa nafsu!”.

Bung Toton hanya mematung. Dari matanya yang melembab, ada sebersit penyesalan yang menusuk-nusuk pikirannya. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya. Pikirannya kacau balau. Lalu minggat meninggalkan Gedung yang juga sebagai rumahnya.

**

Setelah seharian tak pulang, Bung Toton kembali dengan wajah semringah. Ia memberikan sejumlah uang pada istrinya yang melongo seperti orang bego.

“Ini buat bayar SPP. Dan sekarang kau harus menyiapkan segala kebutuhan untuk satu kenduri besar. Kau siapkan segalanya. Aku pergi dulu, mau beli binatang yang sering kau sebut-sebut itu!”

Istrinya masih terdiam. Ia tahu, suaminya tak serius dengan kata-katanya. Tapi melihat betapa banyak uang yang ia pegang, ia pun percaya dan melaksanakan perintah suaminya. Tak lupa, ia juga membuat undangan untuk Walikota, kiai Sam’an, Bang Doni, Abdul Sholeh yang ketua GKC itu, dan beberapa orang penting di Kota Ciremai.

Syahdan, di hari kenduri itu wajah Bung Toton nampak berbinar-binar. GKC yang biasanya sepi kini menjadi ramai sekali. Bahkan ruas-ruas jalan yang ada di sekitarnya di-overbodden. Petugas keamanan pun bersiaga di tiap titik sudut. Di hari itu, istrinya juga berdandan. Mulutnya lebih banyak tersenyum daripada mengeluarkan kata-kata jorok dan kasar. Ia merasa sedikit menyesal telah bersikap buruk pada suaminya. Sementara anaknya yang masih remaja, sudah tampil bak biduan yang hendak manggung. Mereka larut dalam kebahagiaan.

Hari itu, Bung Toton menerima tamu-tamunya dengan segenap santun yang dimilikinya. Ia tersenyum puas karena para undangan bisa hadir semua. Beberapa wartawan lokal pun sudah komplit menyalaminya, yang kelak akan membuat kenduri besar itu menjadi buah bibir banyak orang.

Acara pun dimulai. Diawali dengan sambutan Walikota, dan langsung disusul acara makan-makan. Semuanya berjalan mulus tanpa hambatan apa-apa. Para tamu undangan merasa puas dengan masakan istri Bung Toton. Tak terkecuali kiai Sam’an. Bahkan beberapa di antaranya ada yang meminta sup dan sate kerbau yang berjejer di meja saji agar bisa dibawa pulang.

Dengan senang hati Bung Toton pun mempersilakannya. Tak ada yang membuatnya lebih senang daripada melihat masakan istrinya telah ludes.

Lalu pada gilirannya, kiai Sam’an pun sudah membacakan doa untuk menutup acara. Tapi karena rasa penasaran yang meluap-luap, beliau kemudian menambahkan kalimat ini: “Agar tidak membuat semua yang ada di sini menjadi bingung, ada baiknya Bung Toton menyampaikan sepatah dua kata berkenaan dengan kenduri besar ini.”

Para hadirin yang juga tak kalah penasarannya itu pun mengiyakan usulan pak kiai. Mereka setuju kalau Bung Toton melakukannya.

Bung Toton terdiam sejenak. Keadaan telah memaksanya untuk membuka semua yang ada di pikirannya. Ia siap. Dan dalam sekejap ia mengambil alih podium.

Dengan terbata-bata ia memulai, “Salah hormat untuk bapak Walikota, pak kiai Sam’an, Bang Doni, Pak Abdul Sholeh, dan semua tamu undangan.”

Sebentar ia membetulkan dasi bajunya, dan meneruskan, “Saya sebagai wong cilik merasa senang sekali, saudara-saudara sekalian berkenan hadir dalam acara ini. Di sini, terpaksa saya harus bercerita tentang apa yang terjadi di hari-hari kemarin. Soal gaji itu, saya yakin semuanya sudah tahu. Soal tunggakan SPP anak saya pun anda-anda pasti juga telah tahu. Sebab, beberapa hari yang lalu saya telah mendatangi rumah dan kantor saudara-saudara sekalian.”

Bung Toton menenggak isi gelas yang tadi di bawanya, dan kembali menguasai keadaan.

“Ketika itu saya hampir putus asa. Setiap rumah yang saya datangi, seolah menutup pintunya. Setiap orang yang saya temui pun selalu berpura-pura iba, tapi tak pernah mengulurkan tangannya. Sementara mereka yang harusnya bertanggung jawab malah mengajak saya main kucing-kucingan. Semuanya tak bisa dimintai bantuan. Saya putus asa. Lelah. Juga marah. Dan kalau sekarang anda-anda sekalian memaksa saya untuk mengatakan hal ihwal mengenai kenduri ini, baiklah. Saya akan mengatakannya.” 

Sekali lagi Bung Toton menciumi bibir gelasnya. Dan para tamu masih memasang telinga dengan penuh siaga.

“Bapak-ibu sekalian. Saya ini memang miskin. Selalu diinjak-injak oleh para penguasa. Maka, dalam hidup yang singkat ini, keinginan terbesar saya adalah…” ia agak ragu sebentar. Lalu dari mulutnya mengalirlah kalimat ini: “Keinginan terbesar saya adalah menginjak-injak kepala Anda-Anda semua.”

Para hadirin terperangah. Termasuk juga istri dan anaknya. Tapi belum juga mereka melancarkan protes, Bung Toton lekas meneruskan.

“Ketahuilah wahai bapak-bapak yang terhormat. Semua makanan yang sudah anda santap malam ini, semuanya saya beli dari duit togel!”

Mendengarnya, seluruh isi ruangan jadi ramai. Gumaman-gumaman bersahutan di udara. Lalu tatapan orang-orang mengarah pada kiai Sam’an yang ketika itu langsung berdiri sambil berteriak, “Jahanam kau Toton!”. Lalu ia hengkang terbirit-birit sambil memuntahkan isi perutnya.

Bung Toton tertawa sendiri di atas podium. Lagi ia memekik, “Sekarang Anda tahu, bukan negara, pejabat, orang kaya, atau alim ulama, tapi togellah yang jadi juru selamat saya.” Kembali ia tertawa.

“Sekarang, saya ingin membagi dosa itu pada Anda.”

Lalu ia tertawa panjang. Dan segera berhenti ketika menyaksikan seluruh tamu undangan ikut tertawa. Malah dengan lebih kerasnya.

“Hahahahahaaa….” Tawa mereka menggema dengan begitu kerasnya.

Bung Toton terdiam. Rasa keheranan menyelimuti wajahnya. Kemudian salah seorang dari Dinas kebudayaan melangkah menghampirinya. Ia menepuk-nepuk pundak Bung Toton dengan tawa yang belum juga mereda. Sampai akhirnya ia mampu berbicara, “Toton, Toton…. Membagi dosa, katamu?” Pejabat itu kembali terbahak-bahak, yang membuat Bung Toton makin terheran-heran.

“Hahahahaaaa….”

Karena lama-kelamaan semuanya membuat hati kesal, akhirnya Bung Toton balik bertanya, “Kenapa Anda nampak girang sekali?”

Pejabat itu berhenti tertawa, lalu menjawab, “Bukankah kau ingin membagi dosa togel itu?”

“Iya. Membagi dosa!”

“Dengar, kalau soal dosa, hampir setiap hari kami membagi-baginya!!!”

Kemudian para undangan pun bubar.

Dalam ruangan itu tinggal ada Ibu Toton, Indra, dan Bung Toton sendiri yang masih tegak berdiri. Ia belum mampu menggerakkan kedua kakinya. Saat itu ia hanya bisa menggumam, “Ternyata mereka lebih gila dari saya”.



Lingkar Studi Sastra (LSS) Cirebon, 2010

*Cerpen Bung Toton pernah terbit di HU Radar Cirebon 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngajaraken Murid Nile Demokrasi

Wayang Wong Cerbon Ngalami Tenar