Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

Nyanyian Buruh Tani

Di kampung saya, Kapetakan, Cirebon, musim panen ketiga saat ini, seorang buruh tani dapat catu (bagian) hasil ngarit dari pemilik tanah hanya 'sekilo dua kilo'. Karena satu hektare ladang sawah digropyok ratusan buruh tani. Prosesnya juga seperempat jam, sawah yang dipanen ludes. Untuk lebih dari itu, seorang buruh tani harus rela bermalam di areal sawah. Malam hari, kondisi ag ak lengang. Lebih parah lagi, ada buruh tani harus bersitegang dengan pemilik tanah. Sebab pemilik tanah melarang sawahnya dipanen orang lain. Hanya hendak dipanen keluarga. Buruh tani yang tak memiliki kuasa, terpaksa gigit jari. Meratapi atau mencracau seperti orang yang tak tau diri. Musim kemarau, masih di kampung saya, Kapetakan, Cirebon, banyak padi yang puso alias gagal panen. Untuk minum, mencuci, dan mandi harus mengeluarkan "anggaran" rumah tangga lebih dari Rp20 ribu untuk kebutuhan air sekeluarga kecil. Belum kebutuhan pokok lainnya. Bagaimana dengan penghasilan c...