Nyanyian Buruh Tani
Di kampung saya, Kapetakan, Cirebon, musim panen ketiga saat ini,
seorang buruh tani dapat catu (bagian) hasil ngarit dari pemilik tanah
hanya 'sekilo dua kilo'. Karena satu hektare ladang sawah digropyok
ratusan buruh tani. Prosesnya juga seperempat jam, sawah yang dipanen
ludes. Untuk lebih dari itu, seorang buruh tani harus rela bermalam di
areal sawah. Malam hari, kondisi agak lengang.
Lebih parah lagi, ada buruh tani harus bersitegang dengan pemilik tanah. Sebab pemilik tanah melarang sawahnya dipanen orang lain. Hanya hendak dipanen keluarga. Buruh tani yang tak memiliki kuasa, terpaksa gigit jari. Meratapi atau mencracau seperti orang yang tak tau diri.
Musim kemarau, masih di kampung saya, Kapetakan, Cirebon, banyak padi yang puso alias gagal panen. Untuk minum, mencuci, dan mandi harus mengeluarkan "anggaran" rumah tangga lebih dari Rp20 ribu untuk kebutuhan air sekeluarga kecil. Belum kebutuhan pokok lainnya. Bagaimana dengan penghasilan catu 'sekilo dua kilo'?
Kalau tidak punya "anggaran" sebesar itu harus bikin sumur musiman, menggali lubang di sawah. Dan ketika ada sumur di ladang, mau tidak mau jadi milik umum, antre. Antre menunggu rembesan air, dan yang butuh juga banyak.
Melihat itu, saya berpikir, betapa mahalnya hidup menjadi buruh tani di Indonesia yang konon katanya negaranya 'gamah ripah loh jinawi'.
Wajar jika banyak buruh tani yang 'prustasi'. Asing di negrinya sendiri.
Betapa tanah dan air merupakan hak dasar yang harus dikuasai negara. Kalau tidak? Tinggal menunggu waktu, ketegangan-ketegangan yang lebih besar terjadi akibat kesenjangan. Tapi kenapa negara tidak berpihak kepada buruh tani dan petani. Lihat saja, kini tanah kian menyempit, tergantikan pabrik-pabrik, perumahan-perumahan menjamur, dan gedung-gedung lainnya yang tidak ramah terhadap lingkungan alam dan sosial.
Tampaknya negara kita hanya tinggal nama. Kedaulatan akan tanah dan airnya hanya menjadi nyanyian-nyanyian buruh tani yang nglamun akan negara yang "gemah ripa loh jinawi."
24 September 2013
Selamat Hari Tani.
Lebih parah lagi, ada buruh tani harus bersitegang dengan pemilik tanah. Sebab pemilik tanah melarang sawahnya dipanen orang lain. Hanya hendak dipanen keluarga. Buruh tani yang tak memiliki kuasa, terpaksa gigit jari. Meratapi atau mencracau seperti orang yang tak tau diri.
Musim kemarau, masih di kampung saya, Kapetakan, Cirebon, banyak padi yang puso alias gagal panen. Untuk minum, mencuci, dan mandi harus mengeluarkan "anggaran" rumah tangga lebih dari Rp20 ribu untuk kebutuhan air sekeluarga kecil. Belum kebutuhan pokok lainnya. Bagaimana dengan penghasilan catu 'sekilo dua kilo'?
Kalau tidak punya "anggaran" sebesar itu harus bikin sumur musiman, menggali lubang di sawah. Dan ketika ada sumur di ladang, mau tidak mau jadi milik umum, antre. Antre menunggu rembesan air, dan yang butuh juga banyak.
Melihat itu, saya berpikir, betapa mahalnya hidup menjadi buruh tani di Indonesia yang konon katanya negaranya 'gamah ripah loh jinawi'.
Wajar jika banyak buruh tani yang 'prustasi'. Asing di negrinya sendiri.
Betapa tanah dan air merupakan hak dasar yang harus dikuasai negara. Kalau tidak? Tinggal menunggu waktu, ketegangan-ketegangan yang lebih besar terjadi akibat kesenjangan. Tapi kenapa negara tidak berpihak kepada buruh tani dan petani. Lihat saja, kini tanah kian menyempit, tergantikan pabrik-pabrik, perumahan-perumahan menjamur, dan gedung-gedung lainnya yang tidak ramah terhadap lingkungan alam dan sosial.
Tampaknya negara kita hanya tinggal nama. Kedaulatan akan tanah dan airnya hanya menjadi nyanyian-nyanyian buruh tani yang nglamun akan negara yang "gemah ripa loh jinawi."
24 September 2013
Selamat Hari Tani.
Komentar
Posting Komentar